Translate

Rabu, 04 September 2013

Manusia Sebagai Obyek Dakwah, Pendekatan Filosofis Tentang Konsep Manusia

Manusia Sebagai Obyek Dakwah, Pendekatan Filosofis Tentang Konsep Manusia

A.    Manusia Sebagai Objek Dakwah
Kata dakwah (mengajak), secara esensial mengandung tiga dimensi yang bersifat integral, yaitu tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainya. Tiga dimensi tersebut ialah penyadaran yang ditujukan kepada fitrah manusia sebagai makhluk monoteis (bertauhid) dan beriman kepada Allah, pengarahan yang ditujukan kepada hawa nafsu, dan bimbingan yang ditujukan kepada akal sebagai power of reason (kekuatan penalaran). Dari tiga dimensi di atas, jelaslah bahwa yang menjadi subyek dan obyek dakwah adalah manusia.
1.      Dimensi Penyadaran
Pada hakikatnya, dakwah menghendaki agar manusia sadar terhadap jati dirinya sebagai makhluk yang beriman kepada Allah. Menurut Ibnu Taimiyah “pada dasarnya manusia dilahirkan ke dunia tidaka memiliki pengetahuan apapun.” Ungkapan ini berlandaskan kepada pernyataan al-Quran “sesungguhnya tuhanmu akan menyelesaikan perkara di antara manusia dengan keputusan-Nya”. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia kondisi awalnya tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Namun demikian, manusia dibekali dengan daya-daya potensial yang disebut fitrah.
Daya-daya tersebut inheren pada diri manusia, sehingga ia dapat menduduki posisi sebagai al-Ahsan al-Taqwim. Mengenai hal ini Ibnu Taimiyah membagi daya-daya yang terkandung dalam fitrah pada tida bagian :
a.       Daya Intelek (quwwah al-aql)
Yaitu daya yang berpotensi untuk mengenal dan mentauhidkan Allah. Dengan daya ini manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah (yufariq baina l’-haq wa l-bathil). Disamping itu, dengan daya ini manusia memperoleh pengetahuan. Inilah yang menjadi indikator manusia berbeda dengan makhluk lainya, yakni berfikir untuk mencari kebenaran. Oleh karenanya, manusia yang mengingkari terhadap daya ini, konsekuensinya ia akan menjadi kufur atau musyrik.
Menurut Dr. Juhaya S. Praja, “di dalam daya intelek terkandung daya nazhar dan iradah. Daya nazhar terdiri dari dimensi kognisi, persepsi, dan komprehensi. Sedangkan daya iradah terdiri dari dimensi emosional dan kemempuan menialai. Dengan demikian, secara naluriah manusia cenderung untuk berbuat kebajikan. Maka dakwah dalam proses penyadaran adalah membimbing akal manusia agar mampu mengontrol jati dirinya sebagai manusia yang ideal dan beriman.
b.      Daya Ofensif (Quwwah al-shahwah)
Yakni suatau daya yang berpotensi menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan dan fragmatis. Jika seseorang mengingkari daya ini, maka ia akan terjerumus pada perbuatan-perbuatan hedonistis yang bertentangan dengan syari’at, seperti perzinahan, perjudian, korupsi, dan jenis perbuatan lainya yang serupa. 
c.       Daya Defensif (Quwwah al-ghadab)
Yaitu daya yang berpotensi untuk menghindari kejahatan dan kemafsadatan. Dengan demikian, orang yang mengingkari daya ini, niscaya ia akan berbuat kejahatan yang tidak manusiawi, seperti pembunuhan dan penganiayaan.
Tahap awal dalam berdakwah adalah mengingatkan kembali kepada fitrah manusia dengan proses penyadaran bahwasanya ia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci. Tentunya dari penyadaran output yang diharapkan adalah taubat, yakni sebuah poyeksi pengakuan kembali manusia terhadap eksistensinya sebagai makhluk yang harus mengabdi kepada Allah.

2.      Dimensi Pembebasan
   Setelah melakukan penyadaran, maka langkah selanjutnya adalah aktualisasi pembebasan, yaitu menghapus dunia lama yang tidak islami menjadi islami. Dengan kata lain, dakwah dalam konteks pembebasan berarti melakukan rekonstruksi masyarakat yang islami.
Islam sangan menitikberatkan peranan etika (akhlak) dalam kehidupan. Sebagaimana dikatakan oleh Fazlur Rahman, “al-Quran yang dijadikan sumber dan pedoman utama dalam islam memiliki tujuan sentral, yaitu menciptakan tata sosial yang mantap dan adil di bumi ini berlandaskan etika.” Oleh karenanya proses dakwah dalam pembebasan ini mencakup empat unsur : Keyakinan, Fikrah (pemikiran), Sikap, dan Perilaku.
Dalam rangka mengislamisasikan empat unsur tersebut, maka diperlukan aktualisai konsep tauhid, sebab di samping merupakan proses seluruh ajaran islam, juga sebagai pandangan yang paling fundamental dalam islam, karenanya di dalamnya tersirat koherensi dan keselarasan antara semua bagian alam semesta ini. Minimal ada tiga hal yang dapat kita ambil dari esensi ajaran tauhid, yaitu :
a.       Tujuan penciptaan alam semesta
b.      Pemebasan dan kemerdekaan manusia dari perbudakan
c.       Penghambaan yang dilakukan hanya kepada Allah serta meniadakan semua hak kedaulatan dan perwalian siapapun di atas masyarakat manusia selain Allah.
Hal ini menunjukan bahwa tauhid mampu menggerakan aktivitas dakwah untuk membebaskan manusia dari perangkap-perangkap nativisme yang mengajak agar kembai ke ajaran nenek moyang tanpa melihat apakah ajaran tersebut rasional atau tidak. Jika tauhid ini dijadikan landasan dalam proses dakwah, maka fungsi dakwah juga akan mampu menyelamatkan amnusia darikeangkuhan sekularisme yang cenderung mengkultuskan manusia sebagi tuhan, sehingga mereduksi nilai-nilai agama dengan memunculkan nilai-nilai humanistik.

3.      Dimensi Pelembagaan
Sebagai manifestasi teologis, dakwah harus diimplementasikan dalam kehidupan sosial, yakni dengan melembagakan nilai-nilai islam ke dalam tatanan masyarakat. kewajiban mengajak manusia supaya masuk ke jalan Allah (sistem islam), pertama-tama ditujukan kepada setiap muslim. Namun karena dalam masyarakat terdapat kompleksitas masalah, maka usaha-usaha dakwah tidak akan efektif jika dilakukan secara individual (perorangan). Oleh karenanya dalam al-Quran dijelaskan bahwa untuk menegakan kebenaran dan keadilan (ma’ruf) serta mencegah kezhaliman (munkar), sesama muslim diharuskan bekerja sama. Dalam hal ini tentunya ada realisasi pelembagaan, yakni nilai-nilai yang telah diperoleh dalam proses penyadaran dan pembebasan, kemudian dilembagakan dalam sebuah sistem yang kokoh. Pelembagaan yang dimaksud disini adalah pelembagaan islam dalam kehidupan usrah, jamaah dan umat sebagai proses institusional. Misalnya usrah pengajian majelis taklim kaum ibu dilembagakan menjadi himpunan pengajian dalam sebuah lembaga formal. Atau jamaah mendirikan lembaga-lembaga islam, seperti Pondok Pesantren, TK al-Quran, TPA, sekolah-sekolah islam dan lain-lain.
Jika proses dakwah telah menginjak pada tahap pelembagaan, pada dasarnya kewajiban dakwah merupakan kewajiban setiap pemeluk, atau sekurang-kurangnya ada segolongan umat dari golongan tersebut yang melakukanya. Segolongan yang dimaksud di sini adalah sebuah lembaga dakwah formal yang telah dikelola dan digerakan dalam sistem manajemen yang islami. Bila kita telaah kondisi di Indonesia, ternyata cukup banyak lembaga dakwah yang telah mampu bergerak di bidang ekonomi dan kesejahteraan sosial, misalnya BAZIS DKI Jakarta, Dompet Du’afa, Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Lembaga Dakwah Nahdhatul Ulama (LDNU), Lembaga Dakwah Muhammadiyah dan sebagainya. Dengan demikian orientasi dakwah dalam tahap pelembagaan adalah dakwah bi al-hal, yang dalam hal ini dakwah merupakan bagian yang pasti ada dalam kehidupan masyarakat. Maka tujuan sentral dari pelembagaan dakwah, yaitu mewujudkan sistem kemasyarakatan yang islami, sehingga melahirkan ummatan khiran (umat yang terbaik). Dari sinilah terjadinya interaksi antara da’i dengan jama’ah dakwah. Konsekuensi logisnya diharapkan dapat melahirkan kepemimpinan dakwah yang profesional seperti diungkapkaan dalam al-Quran dengan terma uli’l-albab (orang-orang yang profesional)

B.     Pendekatan Filosofis Tentang Konsep Manusia
Dalam pendekatan terhadap manusia suapya bisa menerima ajakan, dakwah, atau pesan dari kita, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

1.      Manusia dengan sifat dasar
Pendekatan dakwah terhadap manusia pertama harus mengetahui bahwa manusia itu memiliki sifat dasar masing-masing yang berbeda. Adapun sifat dasar itu adalah :
a.       Tertutup
Dalam menghadapi orang yang tertutup tentunya yang berdakwah tidak boleh bersifat memaksa kepada objek dakwah. Si pendakwah harus paham keadaan dia mengapa dia bersikap tertutup.
b.      Terbuka
Berbeda dengan menghadapi orang yang tertutup, ketika menghadapi objek yang bersifat terbuka tentunya kita harus bisa terbuka dalam berdakwah.

2.      Usia yang berbeda
Dakwah juga harus melihat dari segi usia yang menjadi objek dakwah antara lain :
a.       Kanak-kanak
Dalam berdakwah kepada kalangan kanak-kanak tentulah tidak boleh disamakan dengan berdakwah kepada orang yang dewasa. Kepada anak-anak lebih cocok dengan bercerita atau berdongeng dengan kisah-kisah para nabi, rosul, atau para wali Allah yang patut dicontoh.

b.      Remaja
Bagi kalangan remaja dakwah bisa dilakukan dengan memberikan motivasi-motivasi supaya dia selalu bersemangat dalam beramal dan bangga menjadi remaja islam

c.       Dewasa
Adapun bagi orang dewasa dakwah seharusnya lebih kepada yang bersifat bagaimana berhubungan dengan Allah dan manusia atau disebut dengan muamalat
.
d.      Lanjut usia
Dakwah bagi orang yang sudah lanjut usia lebih cocok adalah dengan motivasi untuk memperbanyak beribadah atau hubunganya dengan akhirat dan kematian.

3.      Pendidikan
Pendidikan menjadi hal yang harus diperhatikan pula ketika berdakwah. Kita harus tahu objek dakwah yang dihadapi itu dari segi pendidikanya, karena jika disama ratakan tujuan dakwah tidak akan tuntas. Karena masing-masing orang yang berpendidikan berbeda, maka berbeda pula lah cara olah pikirnya. Dakwah itu tidak bisa disamakan antara orang yang berpendidikan akhirnya sarjana dengan orang yang hanya lulusan SD. Tentulah pasti akan berbeda. Adapun bisa kita bedakan objek dakwah berdasarkan pendidikan terakhir antara lain :
a.       Usia Dini
b.      TK
c.       SD
d.      SMP
e.       SMA
f.       PT
g.      Tanpa Pendidikan

4.      Profeasi
Berdakwah juga harus memperhatikan profesi atau pekerjaan yang menjadi objek. Jika yang menjadi objeknya para petani, maka dakwah yang diberikan tentunya bagaimana menjadi petani yang baik sesuai syari’at islam. Begitupula profesi-profesi yang lain seperti :
a.       Petani
b.      Nelayan
c.       Pedagang
d.      PNS
e.       Pengusaha
f.       Ilmuan

5.      Demografi
Wilayah tempat tinggal juga hal yang penting dalam memahami objek dakwah yang di hadapi.
6.      Budaya
Dalam menyampaikan pesan kepada banyak orang tentu kita harus tahu budaya-budaya mereka masing-masing yang berbeda. Minimal kita tahu hal-hal penting yang menjadi budaya orang yang akan di beri pesan-pesan islam. Secara globalnya kebudayaan itu bisa kita lihat dari dua bagian yaitu :
a.       Timur
b.      Barat
Cara berdakwah kepada orang barat tentunya harus berbeda dengan berdakwah kepada orang timur, karena budaya mereka pun masing-masing berbeda satu sama lain bahkan mungkin bertolak belakang.
7.      Jenis kelamin
Hal lain yang harus diperhatikan lagi adalah dari segi jenis kelamin yang berbeda. Hal ini kita bisa bagi menjadi tiga bagian yaitu :
a.       Laki-laki
b.      Perempuan
c.       Waria

8.      Tuna
Manusia pasti memiliki kekurangan baik itu dari segi fisik ataupun batin. Dari segi fisik kita harus pandai berdakwah kepada beberapa saudara kita yang memiliki kekurangan fisik seperti kepada :
a.       Susila
b.      Netra
c.       Wisma
d.      Rungu

9.      Dan ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya kita sukses dalam berdakwah. Diantaranya adalah dengan :
a.       Menyentuh Inderanya
Misalnya dengan kita berpakaian yang indah atau enak dipandang orang ketika berdakwah atau selalu memberikan wajah yang ramah pada siapa pun.
b.      Menyentuh Akalnya
Misalnya dengan menyampaikan pesan yang rasional atau dapat di tangkap oleh akal manusia.
c.       Menyentuh Rasanya
Misalnya dengan bersikap simpati, prihatin terhadap orang, atau merasakan apa yang diderita orang-orang.

C.    Kesimpulan
Dengan demikian kesimpulanya adalah
1.      Manusia sebagai subjek sekaligus objek dakwah islam dengan kata lain manusia itu ada yang menjadi da’i atau yang berdakwah dan manusia juga yang menjadi objek dakwah itu yaitu yang masih membutuhkan bimbingan agama.
2.      Pendekatan kepada manusia supaya dakwah sukses dan bisa diterima oleh masyarakat harus memperhatikan beberapa hal antara lain seperti : dari segi sifat dasar, usia, pendidikan, profesi, demografi, budaya, jenis kelamin dan tuna atau kekurangan secara fisik dari manusia itu sendiri. Selain itu dakwah supaya sukses harus memperhatikan tiga hal yaitu : menyentuh indera nya, akalnya dan juga perasaanya. Dan dari hal itu dakwah harus dimulai dari diri sendiriterlebih dahulu, karena kita tidak akan bisa mengajak orang bila kita sendiri tidak melakukan terlebihdahulu sebelum menyampaikan kepada orang lain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar